Pengalaman Orangtua Mendampingi Anak Autisme dengan Terapi Bicara

Entah kebetulan atau bukan, tepat sehari setelah tim Generos ngasih tema tulisan, saya nonton cuplikan film Good Doctor di Facebook. Ternyata, cuplikan film Good Doctor mengisahkan tentang anak autisme yang menjadi dokter bedah.

Film Good Doctor tentu saja berkaitan banget sama tema tulisan saya kali ini tentang pengalaman orangtua mendampingi anak autisme terapi bicara.

Selama saya nonton cuplikan film Good Doctor, saya menyimpulkan bahwa anak autis itu sebenarnya dapat berkembang layaknya anak-anak normal pada umumnya. Salah satu upaya dalam membantu perkembangannya yakni dengan terapi bicara.

Memang tidak keliru tim Generos ngasih tema tulisan ini. Sebab dari sekian banyak penanganan yang sudah dikembangkan untuk membantu anak autisme, terapi bicara paling identik dengan speech delay yang sudah saya bahas pada artikel-artikel sebelumnya.

Mengapa paling identik? Karena “autisme” ini semacam gangguan perkembangan pada anak dalam hal berkomunikasi atau berinteraksi. Akibatnya, perilaku dan hubungan dirinya dengan orang lain terganggu. Sehingga, tentu keadaan ini mempengaruhi perkembangan pada anak.

Terkait gangguan autisme, saat ini terjadi peningkatan jumlah penyandangnya. Kurang lebih ada sekitar 10-15 per 10.000 anak. Hal ini disampaikan oleh Muhammad Sugiarmin dalam penelitiannya yang berjudul Individu dengan Gangguan Autisme.

Ungkap Sugiarmin, jika angka kelahiran anak di Indonesia per tahunnya ada 4,6 juta anak, maka jumlah pendatang autisme akan terus bertambah hingga 0,15%, yaitu 6900 anak.

Nah berkaca pada film Good Doctor tadi, punya anak autis itu bagi kebanyakan orangtua, seolah merasa malu. Hal ini dapat saya lihat dari orangtua sang anak di film tersebut yang terus mengejeknya. Seolah, punya anak autis itu aib.

Seharusnya, orangtua tidak perlu seperti itu. Padahal, lakukan dulu penangan dengan terapi bicara seperti yang dilakukan oleh salah seorang ibu yang berhasil saya wawancarai pada Senin lalu.

Ngobrol dengan Ibu Ana (nama samaran) terkait upaya dirinya dalam mendampingi anak autisme dengan terapi bicara sebagai penanganannya

Ungkap Ibu Ana, gangguan autisme yang terjadi pada anaknya sudah mulai kelihatan sejak bayi. Saat itu salah satu ciri yang menonjol adalah reaksi anaknya terhadap dirinya sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kontak mata pada anaknya.

Ciri tersebut semakin kelihatan seiring dengan bertambahnya umur sang anak. Pengalaman ibu Ana, sebelum anaknya berusia 3 tahun sudah mengalami kemunduran. Anaknya berhenti mengoceh, menolak bertatap mata, dan tidak bereaksi terhadap orang lain.

Gangguan autisme yang paling kelihatan banget pada anak Ibu Ana adalah dari sisi komunikasi. Mulai dari terlambat berbicara, meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti, tidak memahami pembicaraan, dan sering mengulang apa yang sudah dikatakan orang lain.

Nah, setelah kami berbincang terkait awal mula terjadinya gangguan autisme, saya kemudian bertanya tentang pengalaman Ibu Ana dalam mengasuh atau mendampingi anaknya. Perbincangan ini lebih kepada penangan apa yang sudah dilakukan Ibu Ana dalam mengatasi gangguan autisme pada anaknya.

Perlu diketahui bahwa penanganan bagi anak autisme ditujukan untuk meningkatkan perkembangannya, terutama dari penguasaan bahasa dan juga berbicara. Sebuah penangan yang sudah dilakukan oleh Ibu Ana selama ini adalah melalui terapi bicara.

Menutu Ibu Ana, menerapkan terapi bicara pada anak autisme itu suatu keharusan. Sebab, jelas, anak autis punya keterlambatan berbicara dan kesulitan berbahasa.

Mengapa dibilang suatu keharusan?

Jawaban Ibu Ana (ini diambil dari pernyataan dokternya) bahwa terapi bicara tujuannya untuk melancarkan otot-otot mulut agar anak dapat berbicara dengan baik. Karena hampir semua anak yang mempunyai gangguan autisme, masalahnya pasti kesulitan dalam bicara dan berbahasa.

Masalah itu lah yang paling menonjol. Maka dari itu, dalam hal ini terapi bicara akan sangat membantu dalam menangani gangguan autisme.

Lebih lanjut area bantuan yang diberikan oleh terapi bicara, yaitu mulai dari artikulasi (pengucapan), sekitar organ bicara, untuk bahasa yang menyangkut dengan tahapan bahasa, suara, dan pendengaran.

Ada peran khusus juga melalui terapi bicara ini yakni untuk berkomunikasi, seperti yang terjadi pada anak Ibu Ana tadi.

Peran khusus tersebut menyangkut dalam memperbaiki kemampuan untuk berkomunikasi dan alat bantu sebagai jembatan untuk berbicara dengan menggunakan suara.

Peran Generos

Generos merupakan vitamin herbal anak untuk membantu mengatasi speech delay, lalu untuk meningkatkan kecerdasan otak anak. Efek samping generos tidak ada, karena terbuat dari bahan-bahan pilihan para ahli dibidangnya.

Generos juga solusi untuk anak autis atau disabilitas. Ia dapat menutrisi otak anak, dan masih banyak lagi manfaat yang terkandung pada Generos.

Saya kira Generos memiliki peran penting dalam mengatasi keterlambatan berbicara pada anak. Dan masalah kesulitan dalam berbicara dan berbahasa pada anak seperti pembahasan terapi bicara tadi, Generos membantu juga untuk perkembangan anak autis.

Jadi, selain dengan terapi bicara, mengkonsumsi vitamin herbal juga penting untuk menangani gangguan autisme.

Itu lah pengalaman Ibu Ana dalam mendampingi anaknya yang memiliki gangguan autisme.