SEJARAH TURUNNYA SURAT AL-KAFIRUN

Sejarah Turunya Surat Al-Kafirun – Golongan kafir Quraisy bertindak berbagai macam cara untuk memberhentikan dakwah Islam. Mereka melakukan penghinaan, penyiksaan dan serta menghilangkan nyawa sebagian Golongan muslim tanpa belas kasihan.

Namun hal itu sama sekali tidak melunturkan keimanan orang Islam pada jamanya, malahan jumlah umat islam terus bertambah, bahkan dua tokoh Quraisy yang paling berpengaruh, Hamzah dan Umar masuk ke agama Islam.

Mengutip artikel dari situs https://www.indozone.id/ yang membahas Sejarah Turunya Surat Al-Kafirun, di suatu sore, saat matahari telah terbenam, tokoh-tokoh Quraisy sedang berkumpul di Ka’bah, tokoh tersebut diantaranya Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, al-Nadhr, Abu Jahal, Zam’ah dan tokoh besar lainya. Mereka bertujuan untuk berdiskusi dengan Rasulullah SAW mengenau agama baru yang dibawa Rasul.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah segera menemui orang Quraisy di Ka’bah. Beliau mengira bila golongan Quraisy sudah menerima ajaran agama Islam. Setibanya ditempat tujuan, Rasulullah duduk dan bergabung dengan orang Quraisy, kemudian salah satu tokoh Quraisy mengatakan:

“Hai Muhammad, sejauh ini tidak ada bangsa Arab yang selancang kamu, kamu sudah melecehkan nenek moyang kami, melecehkan agama kami, menghina Tuhan-Tuhan kami, membuyarkan impian , serta membelah persatuan.

Tidak ada satupun hal yang sangat berbahaya, kecuali ajaran yang kamu sebarkan itu. Jika kamu melakukan semua itu atas dasar harta, kami bersedia mengumpulkan semua kekayaan, supaya kamu menjadi orang paling kaya di negri ini.

Apabila kamu melakukan itu hanya untuk mencari kehormatan, kami semua bersedia angkat kamu sebagai seorang pemimpin, atau bahkan apabila kamu melakukan hal itu demi untuk berkuasa akan kami pilih kamu menjadi seorang raja.”

Nabi Muhammad SAW menjawab pertanyaan tersebut, “ Apa yang sudah kalian katakan tadi? Aku sama sekali tidak menginginkan kekayaan, kehormatan, ataupaun kekuasaan. Allah memilihku sebagai rasul, memberika kitab kepadaku, agar menyampaikan kabar menggembirakan untuk kalian, maka aku hanya menyampaikannya dan memberikan nasehat-nasehat pada golongan kalian.Apabila kalian menerimanya, golongan kalian akan beruntung dunia dan akhirat. Jika golongan kalian menolaknya, aku hanay bisa bersabar sampai Allah memberi ketetapan persoalan di antara kita.

Mendengar apa yang sudah disampaikan Rasulullah SAW, tokoh-tokoh besar kaum Quraisy tersebut mendesak Rasullah dengan berbagai macam permintaan tidak masuk akal untuk membuktikan kebenaran apa yang sudah di katakan Rasullah. Mereka meminta kepada Nabi SAW supaya Allah memindahkan posisi gunung serta meluaskan negri yang mereka tinggali, debit air melimpah seperti di negara Syam, menghidupkan kembali Qusay bin Kilab yang merupakan nenek moyang mereka untuk menanyakan kebenaran agama baru yang baginda Muhammad, bahkan salah satu dari mereka ada yang meminta kepada Nabi agar membuatkan tangga menuju langit, naiki tangga tersebut, dan melihat Nabi Muhammad bersama malaikat-malaikat yang membenarkan ajaranya di atas langit.

Ada juga yang meminta agar Allah membuatkan Nabi Muhammad istana yang sangat megah, memberikan emas dan perak jumlah besar, agar kaum Quraisy dapat menyaksikan kelebihan pada diri Nabi, sebab selama ini di mata mereka Nabi hanya seorang pedagang.

Rasulullah pun menjawab semua permintaan tadi dengan jawaban yang sama seperti di awal, bahwa beliau diperintahkan bukan untuk hal tersebut, akan tetapi Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan peringatan sekaligus kabar gembira sesuai petunjuk Al-Qur’an. Dan terserah pada orang Quaraisy binsa menerimanya atau tidak. Terakhir mereka meminta supaya Allah segera menjatuhkan azab, Nabi Muhammad menjawabnya, “ Jika Allah berkeinginan, hal tersebut pasti akan terjadi.”

Perundingan pun selesai, Rasulullah SAW pulang kerumahnya dengan perasaan yang sangat sedih lantaran perkataan dari tokoh-tokoh Quraisy, tokoh Quraisy juga berkata tidak akan pernah beriman pada Nabi, padahal Rasulullah sudah mengajak tokoh Quraisy untuk masuk ke agama Islam.

Di suatu hari saat Rasulullah sedang melakukan tawaf di Ka’bah, ada empat tokoh terkemuka kaum Quraisy menghentikan tawaf Nabi, tokoh-tokoh tersebut ialah Aswad bin Muthalib, Walid bin Mughiroh, Umayah bin Khalaf dan al-‘Ash bin Wa’il. Mereka menyampaikan maksudnya saling bergantian pada nabi Muhammad:

“ Hai Muhammad, kami bersedia menyembah apa yang selama ini kamu sembah tetapi kamu harus bersedaia juga menyembah apa yang selama inikami sembah. Dengan demikian kita dapat menjalin kerjasama dalam hal ini.

Apabila apa yang selama ini kamu sembah itu lebih baik dari apa yang kami sembah, maka kaum kami akan mengambil kebaikan tersebut, begitu pula dengan kamu, apabila yang kami sembah ternyata lebih baik dari yang kamu sembah, maka kamu harus mengambil kebaikan tersebut.”

Akan tetapi apa yang mereka harapkan melesat, setelah selesai menyampaikan keinginannya pada nabi Muhammad, Allah mendatangkan surat al-Kafirun ayat 1-6:

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir.

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

Mengetahui jawaban dari Nabi keempat tokoh malah semakin kebingungan dan berpikir keras. Hingga pada akhirnya kaum kafir Quraisy mempunyai inisiatif untuk menanyakan kebenaran tentang nabi Muhammad pada kaum Yahudi.

Baca sejarah turunya surat-surat Al-Quran lainya di sini.